Evaluasi pola penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid di instalasi rawat inap RSU Tangerang Selatan dengan metode Gyssens
DOI:
https://doi.org/10.54957/ijhs.v4i5.1015Kata Kunci:
Antibiotik, Demam tifoid, Metode gyssens, RasionalitasAbstrak
Latar Belakang: Bakteri Salmonella typhi menyebabkan demam tifoid, penyakit menular yang sebagian besar menyerang saluran pencernaan, Demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi paling baik diobati dengan antibiotic. Tujuan: evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien demam thypoid engan metode gyssens di instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum kota Tangerang Selatan. Metode: Penelitian ini menggulnakan pendekatan penelitian observasional deskriptif non-eksperimental. Pengambilan data di lakukan secara retrospektif dengan analisis tingkat rasionalitas. Pengambilan data didapatkan dari data rekam medis dan resep pasien yang terdiagnosa demam thypoid. Hasil: Rasionalitas penggunaan antibiotik dianalisis dengan menggunakan metode Gyssens di mana Pemberian obat antibiotik yang sering di berikan yaitu cefixime dan ceftriaxone dengan golongan antibiotik cephalosporin generasi ketiga sebanyak 21 pasien dan mendapatkan persentase sebesar 25%, sedangkan rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid yang menjalani rawat inap di RSU kota Tangerang selatan dari 84 rekam medis pasien, terdapat 75% penggunaan antibiotik rasional di kategori 0 dan terdapat 25% yang tidak rasional termasuk pada kategori IVA (ada alternatif lebih efektif). Kesimpulan: Mayoritas pasien demam tifoid di RSU Kota Tangerang Selatan menerima antibiotik yang rasional. Namun, masih terdapat 25% pasien yang menerima antibiotik tidak rasional yang dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik sehingga perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional, seperti edukasi kepada tenaga medis dan pasien.
Referensi
Ayobami, O., Brinkwirth, S., Eckmanns, T., & Markwart, R. (2022). Antibiotic resistance in hospital-acquired ESKAPE-E infections in low- and lower-middle-income countries: a systematic review and meta-analysis. Emerging Microbes and Infections, 11(1), 443–451. https://doi.org/10.1080/22221751.2022.2030196
Care, M. of H. and C. (2011). Guideline for the Management of Typhoid Fever 2011. Ministry of Health and Child Care. http://zdhr.uz.ac.zw/xmlui/handle/123456789/1434
DeVos4, J. B. P. K. T. M. F. H. E. (2024). Typhoid Fever.
Efrilia, D., Carolia, N., Mustofa, S., & Januari, ; |. (2023). Metode gyssens sebagai pilihan utama dalam evaluasi penggunaan antibiotik di indonesia. Medula Jurnal, 13(1), 14.
Guzman, Y. H. ; N. (2023). antibiotic resistance. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513277/
Gyssens, I. (2006). Audits for Monitoring the Quality of Antimicrobial Prescriptions. In Antibiotic Policies: Theory and Practice (pp. 197–226). https://doi.org/10.1007/0-387-22852-7_12
Karminingtyas, S. R., Taufikarani, A., & Seralurin, G. (2018). Evaluasi Dosis Antibiotik Pada Pasien Demam Tyfoid Anak di Instalasi Rwat Inap RSI Sultan Agung Semarang dan RSUD Tugurejo. Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product, 1(1). https://doi.org/10.35473/ijpnp.v1i1.30
Mayaranti Wilsya, Yunilda Rosa, & Dian P.F. (2021). Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Dalam Pengobatan Demam Tifoid Di Rumah Sakit X Tahun 2020. Jurnal Kesehatan : Jurnal Ilmiah Multi Sciences, 11(2), 101–106. https://doi.org/10.52395/jkjims.v11i2.330
Mustofa, Festy Ladyani, Rakhmi, G. (n.d.). Karakteristik Pasien Demam Tifoid pada Anak dan Remaja. JURNAL ILMIAH KESEHATAN SANDI HUSADA. https://doi.org/10.35816/jiskh.v12i2.372
Oktaviana, F., & Noviana, P. (2021). Efektivitas Terapi Antibiotika Demam Tifoid Pada Pediatrik Di Rumah Sakit X Kota Kediri. Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 3(2), 63–70. https://doi.org/10.37311/jsscr.v3i2.11688
Patil, N., & Mule, P. (2019). Sensitivity pattern of salmonella typhi and paratyphi a isolates to chloramphenicol and other anti-typhoid drugs: An in vitro study. Infection and Drug Resistance, 12, 3217–3225. https://doi.org/10.2147/IDR.S204618
Permenkes RI. (2021). Pedoman Penggunaan Antibiotik. Permenkes RI, 1–97.
Profil Kesehatan Indonesia 2018. (2019). INDONESIA, KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK. https://www.scribd.com/document/416364466/profil-kesehatan-indonesia-2018-pdf
Saputra, D. A. (2021). Terapi pada Demam Tifoid Tanpa Komplikasi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(1), 213–222. https://doi.org/10.37287/jppp.v3i1.392
Sukmawati, I. G. A. N. D., Adi Jaya, M. K., & Swastini, D. A. (2020). Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Tifoid Rawat Inap di Salah Satu Rumah Sakit Pemerintah Provinsi Bali dengan Metode Gyssens dan ATC/DDD. Jurnal Farmasi Udayana, June, 37. https://doi.org/10.24843/jfu.2020.v09.i01.p06
Wang, W., Arshad, M. I., Khurshid, M., Rasool, M. H., Nisar, M. A., Aslam, M. A., & Qamar, M. U. (2018). Antibiotic resistance : a rundown of a global crisis. Infection and Drug Resistance, 11, 1645–1658.
Wangdi, T., Winter, S. E., & Bäumler, A. J. (2012). “ You can ’ t hit what you can ’ t see ” © 2012 Landes Bioscience . Do not distribute . © 2012 Landes Bioscience . Do not distribute . 3(2), 88–92.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2024 Siva Fauziah, Dede Komarudin

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.







