Implementation of the business judgment rule doctrine under Law Number 16 of 2025 on the protection of the human rights of state-owned enterprise management in exercising their authority

Penulis

  • Yogi Herlambang Universitas Gadjah Mada

DOI:

https://doi.org/10.54957/jolas.v6i4.2263

Kata Kunci:

Business Judgment Rule, Criminalization of Policy, Human Rights, State Financial Loss, State-Owned Enterprises

Abstrak

State-Owned Enterprises (SOEs) possess a dual character as profit-oriented business entities and as instruments of the state in delivering public services. In law enforcement practice, the business losses incurred by SOEs are frequently equated with state financial losses, so that business decisions taken by directors in good faith are exposed to the risk of criminalization of policy. This condition may infringe the right to fair legal certainty and the right to a sense of security as guaranteed by Article 28D(1) and Article 28G(1) of the 1945 Constitution and Law Number 39 of 1999 on Human Rights. This study analyzes the implementation of the Business Judgment Rule (BJR) doctrine under Law Number 16 of 2025 concerning the Fourth Amendment to Law Number 19 of 2003 on SOEs and its relevance to the protection of the human rights of SOE management. The study employs a normative juridical method with statutory, conceptual, and case approaches, examining Constitutional Court Decisions Number 48 and 62/PUU-XI/2013, Constitutional Court Decision Number 25/PUU-XIV/2016, and the court decisions in the Hotasi Nababan, Karen Agustiawan, and Sofyan Basir cases. The findings show that the inconsistency of convictions in judicial practice reflects genuine legal uncertainty, whereas Law Number 16 of 2025 reinforces the BJR by affirming that the assets and losses of an SOE belong to and are the responsibility of the SOE as a legal entity. The rights to legal certainty and to a sense of security are derogable rights, yet they intersect with a non-derogable core, namely the principle of legality and recognition as a person before the law (Article 28I(1)), so that their limitation is subject to the requirements of Article 28J(2). Remedies for criminalization that violates human rights may be pursued through pretrial motions, acquittal or release from prosecution, judicial review, compensation and rehabilitation, and guarantees of non-repetition through legal reform. Accordingly, the BJR functions not only as an instrument of good corporate governance but also as an instrument for the protection of human rights, although Law Number 16 of 2025 still leaves disharmony with the state finance and anti-corruption law regimes that requires de lege ferenda reconstruction.

 

Kata kunci: Perlindungan HAM, Business Judgement Rule, BUMN, Kriminalisasi Kebijakan.

Referensi

Ahmad, H. (2023). Mengurangi benang kusut dualisme hukum BUMN: Antara karakter privat korporasi dan tanggung jawab publik. Jurnal Hukum Tata Negara Kontemporer, 14(3), 211–230.

Atmasasmita, R. (2010). Globalisasi kejahatan bisnis dan hukum pidana. Kencana.

Basri, C. (2022). Dampak ketakutan kriminalisasi terhadap kelumpuhan keputusan investasi BUMN. Jurnal Ekonomi Kebijakan Publik, 12(4), 309–326.

Boen, H. S. (2008). Bianglala business judgment rule. PT Tatanusa.

Fuady, M. (2010). Doktrin-doktrin modern dalam corporate law dan eksistensinya dalam hukum Indonesia. Citra Aditya Bakti.

Harahap, M. Y. (2019). Hukum perseroan terbatas. Sinar Grafika.

Hertiawan, E. (2022). Penerapan doktrin business judgment rule di Indonesia. Hukumonline. https://www.hukumonline.com/klinik/a/penerapan-doktrin-ibusiness-judgment-rule-i-di-indonesia-lt62565dbe855a0/

Lubis, T. M. (2024). Aspek sipil-politik pengurus badan usaha negara: Kriminalisasi kebijakan sebagai pelanggaran hak atas kepastian hukum. Jurnal HAM Nasional, 17(2), 131–150.

Ma’ruf, A. (2021). Benturan rezim hukum keuangan negara dan hukum korporasi dalam pengelolaan BUMN. Jurnal Lex Renaissance, 6(1), 42–60.

Moeljatno. (2015). Asas-asas hukum pidana. Rineka Cipta.

Nasution, B. (2016). Hukum perseroan terbatas. Pustaka Bangsa Press.

Nurfahmi, L. T. P., Juliani, H., & Sa’adah, N. (2019). Tinjauan terhadap pemaknaan kekayaan negara yang dipisahkan pada BUMN dan akibat hukum yang timbul pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 48/PUU-XI/2013. Diponegoro Law Journal, 8(2), 1277–1294. https://doi.org/10.14710/dlj.2019.25463

Pramono, N. (2019). Dilematika penerapan business judgment rule pada badan usaha milik negara. Jurnal Hukum Bisnis, 38(2), 15–32.

Putra, D. (2022). Analisis hindsight bias dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi pada sektor korporasi negara. Jurnal Peradilan Indonesia, 9(3), 195–214.

Sulistiowati. (2010). Aspek hukum dan realitas bisnis perusahaan grup di Indonesia. Erlangga.

Suryadi, Y. (2021). Manajemen risiko hukum korporasi dan pengambilan keputusan direksi. Alumni.

Zendrato, S., Siregar, M., Sunarmi, & Siregar, T. (2016). Analisis hukum atas pemeriksaan kekayaan negara pada badan usaha milik negara (BUMN) mengenai Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 48 dan 62/PUU-XI/2013. USU Law Journal, 4(2), 109–118.

Putusan Mahkamah Agung Nomor 41 PK/Pid.Sus/2015 (Hotasi D.P. Nababan).

Putusan Mahkamah Agung Nomor 121 K/Pid.Sus/2020 (Galaila Karen Kardinah/Karen Agustiawan).

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 48/PUU-XI/2013 dan Nomor 62/PUU-XI/2013 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 4 November 2019 (Sofyan Basir).

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76).

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886).

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286).

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756).

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292).

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2025 Nomor 162).

Unduhan

Diterbitkan

18-06-2026

Cara Mengutip

Herlambang, Y. (2026). Implementation of the business judgment rule doctrine under Law Number 16 of 2025 on the protection of the human rights of state-owned enterprise management in exercising their authority. Journal of Law, Administration, and Social Science, 6(4), 264–274. https://doi.org/10.54957/jolas.v6i4.2263

Terbitan

Bagian

Articles