Interpreting mens rea and academic freedom after constitutional court decision number 26/PUU-XXIV/2026

Penulis

  • Mozza Octarita Universitas Gadjah Mada

DOI:

https://doi.org/10.54957/jolas.v6i5.2457

Kata Kunci:

Academic Freedom, Constitutional Court, Dolus Eventualis, False News, Mens Rea

Abstrak

Articles 263 and 264 of the National Criminal Code, as amended by Law No. 1 of 2026, criminalise the dissemination of false and uncertain news. Four law students challenged both provisions, arguing that “padahal diketahuinya” and “sedangkan diketahuinya” leave the mental element undefined and chill academic expression. Using statutory, case, and conceptual approaches, this study examines the interpretation of mens rea in these offences, the constitutional boundary drawn by Decision 26/PUU-XXIV/2026, and the protection available to academics. The amendment did not create an actual-knowledge standard for Article 263, which its original first paragraph already contained; it closed the negligence and formal-offence variants and raised Article 264 to that standard. The Court recognised the students’ standing but rejected the petition by reaffirming Decision 170/PUU-XXIV/2026, without separately addressing gradations of intent, causation, imminence, or academic freedom. Read with the Elucidation of Article 36, “diketahuinya” requires actual knowledge and excludes dolus eventualis, so researchers who publish data they suspect may be wrong are not criminally liable under Article 263. Because this protection lives in the reasoning of a rejection decision, it must be carried into the new Criminal Procedure Code’s case-screening stage, enforcement guidelines modelled on the 2021 ITE Law guideline and the Press Council–Police agreement, and a statutory exclusion modelled on Article 433(3). Good-faith indicators should serve only to negate knowledge and should protect anyone who produces knowledge through verifiable methods, not only campus academics.

Referensi

Ali, M. M., Hilipito, M. R., & Asy’ari, S. (2015). Tindak lanjut putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat konstitusional bersyarat serta memuat norma baru. Jurnal Konstitusi, 12(3), 631–662. https://doi.org/10.31078/jk12310

Anggraeniko, L. S., Isnina SAN, N., & Simanjuntak, E. (2023). Menakar realitas makar dan hak konstitusional pada kegiatan akademik. Jurnal Hukum In Concreto, 2(1), 12–30. https://ejournal.uhb.ac.id/index.php/inconcreto/article/view/995

Bisnis.com. (2022, November 10). Dewan Pers dan Polri teken kerja sama, cegah kriminalisasi karya jurnalistik. https://kabar24.bisnis.com/read/20221110/15/1596977/dewan-pers-dan-polri-teken-kerja-sama-cegah-kriminalisasi-karya-jurnalistik

Brandenburg v. Ohio, 395 U.S. 444 (1969).

Committee on Economic, Social and Cultural Rights. (1999). General comment No. 13: The right to education (article 13 of the Covenant) (E/C.12/1999/10).

Dewan Pers & Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2022). Nota kesepahaman Nomor 03/DP/MoU/III/2022 dan Nomor NK/4/III/2022.

Erdian, & Nurdin, B. (2026). Reformulation of the regulations on the right to freedom of expression for academics in the digital space in enforcing the crime of defamation. Journal Customary Law, 3(3.1), 1–10. https://doi.org/10.47134/jcl.v3i3.1.5880

European Court of Human Rights. (2009). Sorguç v. Turkey (Application No. 17089/03), Judgment of 23 June 2009.

European Court of Human Rights. (2014). Mustafa Erdoğan and Others v. Turkey (Application Nos. 346/04 and 39779/04), Judgment of 27 May 2014.

Hartanto, H., Syakdiah, S., Astuti, D., & Alimpeev, D. (2026). Penal policy on digital defamation: A comparative study of Indonesian and Malaysian law. Indonesian Journal of Criminal Law Studies, 11(1), 621–652. https://doi.org/10.15294/ijcls.v11i1.34130

Hiariej, E. O. S. (2016). Prinsip-prinsip hukum pidana (Edisi revisi). Cahaya Atma Pustaka.

Humas Mahkamah Konstitusi RI [Humas MKRI]. (2026, Maret). Pemerintah jelaskan batasan dan kriteria pidana bagi penyebar berita hoaks. https://www.mkri.id/berita/pemerintah-jelaskan-batasan-dan-kriteria-pidana-bagi-penyebar-berita-hoaks--24735

Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Indonesia. (1999a). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165.

Indonesia. (1999b). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166.

Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.

Indonesia. (2005). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119.

Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158.

Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6842.

Indonesia. (2024). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1.

Indonesia. (2025). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2025 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 7149.

Indonesia. (2026). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2026 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 7153.

Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik [KIKA]. (2017). Prinsip-prinsip Surabaya untuk kebebasan akademik. KIKA.

Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2021). Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 947.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2009). Putusan Nomor 7/PUU-VII/2009.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2024). Putusan Nomor 78/PUU-XXI/2023.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2025). Putusan Nomor 115/PUU-XXII/2024.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026a). Putusan Nomor 26/PUU-XXIV/2026. https://s.mkri.id/public/content/persidangan/putusan/putusan_mkri_14807_1786523826.pdf

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026b). Putusan Nomor 170/PUU-XXIV/2026. https://s.mkri.id/public/content/persidangan/putusan/putusan_mkri_14515_1782721825.pdf

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026c). Putusan Nomor 29/PUU-XXIV/2026. https://pasal.id/peraturan/putusan-mk/puu-mk-29-2026

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026d). Putusan Nomor 93/PUU-XXIV/2026. https://s.mkri.id/public/content/persidangan/putusan/putusan_mkri_14101_1776327370.pdf

Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung, & Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2021). Surat Keputusan Bersama Nomor 229 Tahun 2021, Nomor 154 Tahun 2021, Nomor KB/2/VI/2021 tentang Pedoman Implementasi atas Pasal Tertentu dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016.

Moeljatno. (2008). Asas-asas hukum pidana (Edisi revisi). Rineka Cipta.

Muhlisin, Nawas, A., Habeahan, R., & Indrayanto. (2025). Hak imunitas wartawan dalam menjalankan tugas ditinjau dari perspektif UU Pers dan UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan, 9(2). https://journal.uinjkt.ac.id/adalah/article/view/50745

Prakasa, S. U. W. (2023). Paradigm of law and human rights as a protection of academic freedom in Indonesia. Human Rights in the Global South, 2(1), 41–56. https://doi.org/10.56784/hrgs.v2i1.41

Putra, A. (2023). Implications of conditional inconstitutional decisions in the Constitutional Court decision. Jurnal Konstitusi, 20(1), 58–77. https://doi.org/10.31078/jk2014

Rahman, A., Hamim, S., Admiral, A., & Susanti, H. (2026). Reformulating defamation offenses: Implications for freedom of expression in Indonesia’s digital space. UIR Law Review, 10(1), 105–128. https://doi.org/10.25299/uirlrev.2026.vol10(1).29303

Ratnawati, E., Nailufar, F., & Rosdiana. (2023). Perlindungan konsumen atas penyebaran berita bohong melalui transaksi elektronik yang mengakibatkan kerugian konsumen. Jurnal de Jure, 15(1), 64–76. https://jurnal.law.uniba-bpn.ac.id/index.php/jurnaldejure/article/view/806

Remmelink, J. (2003). Hukum pidana: Komentar atas pasal-pasal terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Rismansyah, D. M., & Sitabuana, T. H. (2022). Kebebasan akademik dan otonomi keilmuan dalam sistem pemerintahan demokrasi Pancasila (Studi kasus webinar Constitutional Law Society Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Jurnal Hukum Adigama, 5(1), 1123–1142. https://journal.untar.ac.id/index.php/adigama/article/view/20081

Robinson, P. H. (1997). Structure and function in criminal law. Clarendon Press.

Rositawati, D., Tedjaseputra, J. A., Aziezi, M. T., Parmintori, R. T., & Abidin, Z. (2023). Protecting expression: Criminal and human rights law analysis of court judgements in Indonesia. Stanford Human Rights Center. https://humanrights.stanford.edu/publications/protecting-expression-criminal-and-human-rights-law-analysis-court-judgements

Schauer, F. (1978). Fear, risk and the First Amendment: Unraveling the chilling effect. Boston University Law Review, 58(5), 685–732.

Sulistyo, T. (2021). Eksistensi jalur non karier dalam seleksi hakim agung: Kajian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 53/PUU-XIV/2016. Jurnal Yudisial, 14(2), 139–161. https://doi.org/10.29123/jy.v14i2.478

Susilo, E., & Negara, D. S. (2025). Ratio decidendi dan obiter dictum: Evolusi konseptual pertimbangan hakim dalam putusan pidana Indonesia. Jurnal Negara Hukum, 16(2), 165–181. https://jurnal.dpr.go.id/index.php/hukum/article/view/5049

Taqwa, M. D. (2025). Tracing the proportionality in Article 28J(2) UUD NRI Tahun 1945. Jurnal Konstitusi, 22(3), 484–507. https://doi.org/10.31078/jk2234

Tauda, G. A. (2024). Kekuatan mengikat pertimbangan hukum putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian undang-undang (Studi Putusan Nomor 20/PUU-XIX/2021). Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 31(2), 358–383. https://doi.org/10.20885/iustum.vol31.iss2.art6

Tirto.id. (2021, Juni 24). Kapolri, Jaksa Agung, Menkominfo teken SKB pedoman UU ITE. https://tirto.id/kapolri-jaksa-agung-menkominfo-teken-skb-pedoman-uu-ite-ghba

UNESCO. (1997). Recommendation concerning the status of higher-education teaching personnel. UNESCO.

United Nations Human Rights Committee. (2011). General comment No. 34: Article 19, freedoms of opinion and expression (CCPR/C/GC/34).

Wiratraman, H. P. (2023). Kebebasan pers, hukum, dan politik otoritarianisme digital. Undang: Jurnal Hukum, 6(1), 1–31. https://doi.org/10.22437/ujh.6.1.1-31

Wiratraman, H. P., & Prakasa, S. U. W. (2024). Dua dekade kebebasan akademik di Indonesia: Tantangan di tengah menguatnya otoritarianisme dalam model barunya. Jurnal HAM, 15(2), 143–158. https://doi.org/10.30641/ham.2024.15.143-158

Unduhan

Diterbitkan

29-10-2026

Cara Mengutip

Octarita, M. (2026). Interpreting mens rea and academic freedom after constitutional court decision number 26/PUU-XXIV/2026. Journal of Law, Administration, and Social Science, 6(5), 433–453. https://doi.org/10.54957/jolas.v6i5.2457

Terbitan

Bagian

Articles